oleh

Logika Takdir

HastagNet – Terkadang dalil logika dibutuhkan untuk memberikan pemahaman bagi mereka yang hanya percaya dalil logika. Sebagaimana Imam Abu hanifah menjelaskan kepada seorang atheis yang tidak percaya dengan adanya Rabb.

Beliau berkata kepada atheis tersebut:

Saya takjub dengan sebuah kapal yang menepi di dermaga, ternyata tanpa penumpang sama sekali dan ajaibnya barang-barang turun sendiri dan berbaris rapi.

Tentu atheis menolak dan berkata: “tidak mungkin”

Maka Imam Abu Hanifah menang

Begitu juga bagi mereka yang tidak masih tidak percaya atau terlalu dalam membasah tentang takdir. Ulama telah memperingatkan kita agar tidak terlalu sering dan mendalam membahas takdir dan perbuatan kehendak Allah.

Karena Allah tidak ditanya tentang perbuatannya tetapi kitalah yang akan ditanya (pertanggung jawabkan).

Allah berfirman:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai” (Al Anbiya’: 23)

Hendaknya kita beramal untuk agama dan dunia. Sebagaimana kita beramal dan mencari rezeki untuk dunia, kita tidak pernah menyinggung masalah takdir, kita tetap berusaha mencari rezeki tersebut.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ .ثُمَّ قَرَأَ ( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ). الآية

“Beramallah kalian! Sebab semuanya telah dimudahkan terhadap apa yang diciptakan untuknya. Adapun orang-orang yang bahagia, maka mereka akan mudah untuk mengamalkan amalan yang menyebabkan menjadi orang bahagia. Dan mereka yang celaka, akan mudah mengamalkan amalan yang menyebabkannya menjadi orang yang celaka” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah, “Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (HR. Bukhari, kitab at-Tafsir dan Muslim, kitab al-Qadar)

 Sebenarnya permasalahn takdir semua ada jawabnnya, akan tetapi kami paparkan dalil logikanya dalam hal ini.

Kami buat semacam dialog untuk dalil logika takdir:

Penanya: Ustadz, kenapa Allah tidak menciptakan di dunia ini yang baik-baik saja, Kenapa Iblis diciptakan? Kenapa tidak yang baik-baik saja, yang damai yang sejahtera semua Allah ciptakan. Kenapa Allah tidak Adil?

Ustadz: ini logika terbalik, justru jika Allah ciptakan baik semua maka itu tidak adil

Saya beri contoh dua contoh

1. Di kelas, si A rajin sekali dan si B malas-malasan. Kemudian supaya kelas ini baik dan akreditasinya tinggi, saya beri nilai A semua… apakah Adil? Tentu tidak..

2. Kita baru tahu yang baik setelah ada yang jelek, baru tahu yang ganteng setelah ada yang jelek, coba pada ganteng semua, bagaimana kita membedakan yang jelek? Kita baru bisa mengetahui setelah ada lawannya

Kita baru bisa menikmati namanya kenyang setelah sebelumnya lapar, tahu nikmatnya air setelah haus dan tahu nikmatnya menikah setelah lama menjomblo.

Allah Maha Adil dan hikmah dan menempatkan sesuatu sesuai tempat dan haknya

 Penanya: tapi ustadz, kenapa Allah tidak takdirkan dan menulis di lauhil mahfudz kalau Iblis Masuk surga saj dan Iblis tidak dilaknat? Kan lebih baik, merek yang celaka sebelumnya ditakdirkan yang bagus-bagus, masuk surga

Ustadz: karena Allah Maha Tahu yang akan datang dan masa depan, Allah tahu kalau di masa depan, Iblis itu membangkang, sombong dan tidak patuh sehingga layak masuk neraka. Sehingga takdirnya tertulis di lauhil mahfudz.

Karenanya  ulama menjelaskan:

أن الله علم ما كان وما يكون وما لا يكون لو كان كيف كان يكون

“Allah mengetahui yang telah terjadi, mengetahui apa yang sedang terjadi, apa yang tidak terjadi seandainya terjadi dan bagaimana ia terjadi” (Syarh Nawawi ‘Ala Shahih Muslim)


Penanya: tapi ustadz, tetap aja kenyataannya Iblis dilaknat dan dihukum, kenyataannya dia diciptakan untuk dihukum dan disiksa serta dilaknat, kenapa ustadz? Ini kenyataannya..

Ustadz: supaya lebih paham, saya kasi perumapamaan ya

Kamu tahu saya punya handphone ini, ini milik saya, seandainya sekarang handphone ini saya bakar dan saya buang. Kira-kira kalian pada protes tidak? Kalian bisa paksa saya supaya membakar?

Tentu jawabannya tidak, karena ini milik saya

Nah, begitu juga Allah, kepunyaan Allah langit dan bumi beserta isinya.

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

“Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. (QS. Al Baqarah: 255)

Jadi kita jangan terlalu banyak bertanya dan protes dengan perbuatan dan kehendak Allah.

Allah berfirman:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai” (Al Anbiya’: 23)

Penyusun:  Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com

Komentar

Berita Lengkap Lainya