oleh

Joe Biden Menangi Pemilu AS, Ini Akibatnya ke Ekonomi Indonesia

Joe Biden Menangi Pemilu AS, Ini Dampaknya ke Ekonomi Indonesia

HastagNet – Pemilihan Presiden Amerika Serikat (Pemilu AS) sudah mendekati babak akhir. Calon dari Partai Demokrat, Joe Biden, sudah menang atas pesaingnya, Donald Trump, berdasarkan suara elektoral yang diperoleh.

Pada Sabtu malam (7/11/2020), Biden tercatat sudah mengantongi 273 suara elektoral, atau telah lebih dari syarat minimal sebesar 270 suara untuk memenangi kontestasi.

Bagaimana dampaknya terhadap ekonomi Indonesia jika Biden yang berhasil menjadi orang nomor 1 di AS? Berikut rangkuman proyeksi dari ekonom dan analis:

Rupiah Bisa Sentuh Rp 13.500 per Dolar AS
Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (6/11), rupiah ditutup Rp 14.200 per dolar AS, menguat 170,0 poin atau 1,18 persen dari pembukaan. Kurs Jisdor juga menguat ke level Rp 14.321 dari hari sebelumnya Rp 14.439 per dolar AS.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah bisa mencapai level Rp 13.500 per dolar AS di bulan ini jika Biden dinyatakan menang sebagai Presiden AS.

β€œBisa menguat sampai Rp 13.500 per dolar AS di pekan ketiga. Karena di hari Minggu besok Joe Biden akan umumkan kemenangan Pilpres, di situlah diumumkan program apa yang akan diterapkan,” ujar Ibrahim kepada kumparan, Sabtu (7/11/2020).

Kebijakan yang akan dilakukan pemerintahan Biden disebut bisa menenangkan pasar global. Biden juga diperkirakan akan membekukan perang dagang antara AS dengan China dan negara mitra dagangnya.

Surat Utang Laris Manis
Ekonom Indef, Bhima Yudhistira, menilai perekonomian Indonesia secara garis besar akan lebih diuntungkan jika Joe Biden yang menduduki kursi Presiden AS. Salah satu nilai plusnya, modal asing kian deras masuk ke tanah air.

“Salah satu yang akan diincar pastinya obligasi pemerintah Indonesia, karena tawarkan bunga yang tinggi pada investor,” ujar Bhima kepada kumparan, Rabu (4/11/2020).

Tensi Perang Dagang Menurun
Adapun keuntungan kedua, masih menurut Bhima, yakni menurunnya tensi perang dagang antara AS dengan China. Kondisi itu akan berimbas terhadap naiknya permintaan barang dari Indonesia.

Pendapat ini juga diamini oleh Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede. Biden, menurut pandangan Josua, cenderung memiliki pendekatan lebih lunak terhadap China.

Ekspor Indonesia Berpeluang Menguat
Rendahnya tensi itu, lanjut Josua, bakalan mendongkrak harga komoditas dari Indonesia. Sehingga Ekspor juga berpeluang meningkat, dan diikuti penguatan nilai tukar rupiah.

Meskipun di sisi lain, meredanya perang dagang juga membuat China enggan memindahkan pabriknya ke negara lain. Artinya, peluang investasi Indonesia akan turut terhambat.

Kebijakan Energi Terbarukan Untungkan Indonesia
Dari sisi energi, Biden akan mengutamakan penggunaan energi terbarukan dan ramah lingkungan. Berbeda dengan Trump yang masih mengandalkan energi konvensional.

Untuk jangka menengah, kebijakan Biden itu akan memberikan angin segar bagi Indonesia. Sebab upaya itu selaras dengan kebijakan hilirisasi nikel yang selalu digaungkan pemerintah Indonesia.

Hal tersebut juga akan mendorong kerja sama antara AS dan Indonesia dengan lebih erat. Mengingat Indonesia merupakan negara produsen nikel terbesar. [*]

Menarik Dibaca!  Sehabis FIR Kepulauan Riau- Natuna Diambilalih Indonesia, ICAO: Gimana dengan Singapore?

Komentar

Berita Lengkap Lainya