oleh

Buaya Putih Teror Kediri, Mistis sampai Legenda Kerajaan Kuno Jadi Viral

Masyarakat Kediri di dekat Sungai Brantas digemparkan dengan penampakan buaya putih disana. Warga juga ada yang mengkait-kaitkan dengan satu legenda buaya putih pada saat kerjaan kuno di Bumi Panji ini.

Legenda buaya putih demikian kental pada warga derah Kediri. Menurut narasi buaya itu adalah makhluk gaib yang menanti Sungai Brantas yang hanya menunjukkan wujudnya cuma pada seorang khusus saja.

Narasi buaya putih di Sungai Brantas sendiri masih jadi misteri. Sungai yang dipakai jadi jalan raya air semenjak waktu Empu Sindok pada saat Mataram Hindu itu tetap meminta korban nyawa manusia. Berkali-kali orang mendadak kalap di sungai.

“Cerita mengenai penunggu buaya putih ini banyak juga dikisahkan di catatan Belanda saat awal-awal pembangunan project jembatan lama Kediri seputar tahun 1836-876. Dalam catatan Belanda memang disebut jika ada buaya putih penunggu jembatan yang dibuat oleh kolonial Belanda,” kata Imam Mubarok Muslim, praktisi budaya Kediri, Kamis (6/2/2020).

Legenda buaya putih di Sungai Brantas Kediri dipercayai ada di seputar Jembatan Lama Kediri. Tapi menurut Gus Barok, panggilan akrab Dosen Fakultas Ceramah Institut Agama Islam Tribrakti (IAIT) Kediri ini, yang lebih misterius masalah buaya putih yang ada di saluran Sungai Brantas daerah Kecamatan Kras Kabupaten Kediri yang diketahui dengan panggilan ‘Badug Seketi’.

Badug Seketi dipandang tempat yang benar-benar wingit serta angker di wilayah Kecamatan Kras. Dari narasi papar warga ditempat, si buaya putih dahulu awalannya berteman dengan masyarakat seputar. Setiap saat masyarakat hajatan serta meminta tolong pada si buaya putih keperluan hajatan itu tetap disiapkan. Keperluan yang disiapkan itu diantaranya, perlengkapan dapur seperti piring, sendok serta perlengkapan pecah iris yang lain.

“Cerita kerja sama di antara penghuni Sungai Brantas dengan warga itu berlangsung sampai seputar tahun 1970 an. Sebab keserakahan, masyarakat yang menyengaja sembunyikan perlengkapan yang dipinjamkan itu, selesai pulalah jalinan di antara si buaya putih dengan masyarakat seputar,” papar Gus Barok yang sempat wawancarai Abdul Kholik, salah seorang masyarakat Desa Seketi itu.

Benar atau tidaknya mengenai buaya putih itu yang pasti narasi itu masih lestari. Warga banyak yang tidak berani beberapa macam dengan Sungai Brantas sebab takut terserang bencana. Tapi ada pula yang tidak yakin serta memandang jadi mitos semata.

Komentar

Berita Lengkap Lainya