oleh

Belajar Ketawadhuan Dari Umar bin Abdul Aziz

Khalifah Umar bin abdul ‘Aziz dilahirkan di istana dan tumbuh sebagai pangeran yang hidupnya serba mewah. Ia tampan, terkenal rapi, gemar berpakaian bagus dan wangi. Bahkan nih, sampai gaya berjalan beliau diikuti banyak orang. Trend setter gitu deh.. 

Konon beliau sering terlambat sholat karena pembantunya belum selesai merapikan rambutnya. 
Namun semua itu berubah secara tiba-tiba semenjak beliau diangkat menjadi khalifah. Ia tinggalkan kemewahan dan kemanjaannya. Menjadikan gaya hidupnya serta keluarganya menjadi sangat sederhana. Menyamai rata-rata kehidupan masyarakatnya.

Setelah Umar bin abdul ‘Aziz  dibai’at menjadi khalifah, datanglah pada Khalifah Umar kendaraan raja yang berupa unta tunggangan dan pengangkut barang yang dipersembahkan, tapi oleh Umar hanya satu unta yang diambil dan yang lainnya dijual, hasilnya diserahkan ke baitul mal. Begitu juga dengan permadani, alas kaki khalifah juga dijual untuk diberikan pada baitul mal.

Khalifah Umar bin abdul ‘Aziz dikenal dengan panggilan Umar 2. Sedangkan Umar 1 adalah Umar bin Khattab ra.

Umar 2 juga menyerahkan semua tanah dan hartanya ke baitul mal karena meyakini harta yang diwarisi tersebut bukan haknya tetapi hak rakyat. Lalu, Umar 2 juga kemudian memberikan pilihan pada istrinya: Fatimah binti Malik, yang juga berasal dari keluarga kaya raya. Khalifah Umar 2 memberikan pilihan: ikuti jalan Umar atau dipersilahkan meninggalkan beliau. Dan Fatimah binti Malik memilih untuk tetap mendampingi suaminya hingga akhir hayat. 

Semua harta yang mereka miliki diserahkan ke baitul mal dan tinggal tersisa sekedarnya.

Jadi ga usahlah terpukau dengan tindakan Bill Gates atau Mark Z. yang mendonasikan harta mereka. Jauhhh sebelum mereka, kita sudah dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan istrinya. 

Umar 2 sebelum diangkat jadi khalifah,  wah.. Mana mau pakai baju yang sama 2x.
MasyaAllah, setelah hijrah, pakaian yang beliau kenakan adalah pakaian yang sangat sederhana.
Ibn ‘Abdil Hakam meriwayatkan pakaian beliau seharga -/+ 8 dirham, jauh sekali sebelum Umar 2 menjadi khalifah, harga pakaiannya bisa mencapai 800 sampai 1000 dirham.

Pola hidup khalifah Umar bin Abdul Aziz juga berubah total. Dari seorang pencinta dunia menjadi seorang yang hanya mencari kehidupan akhirat.
Umar 2 tinggalnya juga bukan di istana, melainkan di masjid.

Sebagai seorang pemimpin: khalifah Umar 2 merupakan seorang reformis. Pada masa pemerintahan beliaulah, sulit menemukan rakyat yang masuk kategori penerima zakat.

Yahya Ibn Sa’id membawakan suatu riwayat: “Umar Ibn Abdul ’Aziz telah mengutus aku ke Afrika Utara untuk membagi-bagikan zakat penduduk di sana. Maka aku laksanakan perintah itu, lalu aku cari orang-orang fakir miskin untuk kuberikan zakat pada mereka. Tetapi aku tidak mendapatkan seorangpun juga dan kami tak menemukan orang yang mau menerimanya. Umar benar-benar telah menjadikan rakyatnya kaya. Akhirnya kubeli dengan zakat itu beberapa orang hamba sahaya yang kemudian kumerdekakan.”

Pokoknya pada era khalifah Umar 2, negara benar-benar mengalami surplus, bahkan sampai ke tingkat dimana utang-utang pribadi dan biaya pernikahan warga pun ditanggung oleh negara.

Dalam masalah agama beliau juga sangat berjasa, terutama dalam penulisan hadits. Beliau memerintahan penulisan hadits karena dikhawatirkan jika tidak ditulis, hadits-hadits Rasulullah ﷺ akan hilang. 
Beliau juga meniadakan kebiasaan bani ummayyah mengutuk Ali bin Thalib ra dari mimbar-mimbar mereka.
Umar 2 juga yang mengembalikan kebijakan pemberian dana pensiun peninggalan keluarga pejuang muslim yang gugur kepada anak-anak mereka yang selama pemerintahan dinasti Umayyah banyak dikorupsi.

Ketika beliau meninggal; beliau hanya menyisakan pakaiannya yang ia kenakan dan uang 17 dinar. 17 dinar itu digunakan untuk perawatan jenazahnya; 5 dinar untuk kain kafan, 2 dinar untuk tanah pekuburan, dan 10 dirham untuk dibagikan kepada anak-anaknya.
Lagi-lagi ga perlulah terlalu terpukau dengan sosok Jose Musija, presiden termiskin dari Uruguay. 

Umar Ibn Abdul ’Aziz memang tidak lama menjabat sebagai khalifah, tidak sampai 3 tahun. Beliau meninggal pada umur 40thn. 
Namun riwayat beliau menjadi salah satu contoh teladan kisah hijrah dan kepemimpinan yang luar biasa.
Salah satu yang luar biasa adalah pada saat pembai’atan Umar, alih-alih mengucapkan “Alhamdulillah” seperti halnya orang-orang yang baru saja menerima nikmat. Akan tetapi yang beliau ucapkan pertama kali adalah “Innalillahi wainna ilaihi roji’un”, karena ia memandang amanah kepemimpinan sangat berat untuk dijalani. 

Daftar pustaka:
– Kepemimpinan Khalifah Umar Bin Abdgul Aziz.
– Makalah di Scribd. 
– Google

—-

Jadi, kalau mau hijrah, ya harus siap berubah dan itu ga mudah.
Blum lagi menghadapi keraguan orang-orang terutama keluarga. Emang bisa? Mampu ga? Ntar bisa balik lagi ke kerjaan yang dulu ga? 

Manusiawi.. 
Boleh banget semua keraguan itu (pada yang hijrah), tapi: jangan pernah ragu pada Rabb-nya. 

Mari, kita saling mengingatkan serta mendo’akan dalam kebaikan. 

Dan 
“Maka”, kata Imam Al-Ghazali, “tidak ada baiknya kebaikan yang tidak terus. Malahan, keburukan yang tidak terus, lebih baik daripada kebaikan yang tidak terus”

Komentar

Berita Lengkap Lainya