oleh

Bebaskan Generasi Bangsa dari Media Promosi Rokok

Bebaskan Generasi Bangsa dari Media Promosi Rokok
HastagNet –  Anak adalah generasi penerus bangsa yang harus kita jaga dan lindungi. Anak-anak punya hak untuk hidup dengan bahagia, sehat, nyaman saat bermain, mendapatkan pendidikan yang layak untuk masa depannya, hingga memiliki hak untuk bebas dari asap rokok. Anak punya hak untuk selalu mendapatkan nutrisi dan gizi yang baik di masa tumbuh kembangnya. Anak-anak penerus bangsa harus selalu sehat dan cerdas. Jangan pernah menyakiti anak-anak, apalagi menjadikannya media promosi untuk rokok.
Ngomongin rokok, pasti sudah tahu, bahwa ada dampak buruk rokok terhadap kesehatan, terutama untuk anak-anak. Asap rokok itu paling berbahaya, apalagi kalau sampai diisap. Karena bayi dan anak-anak termasuk paling rentan, jika terpapar asap rokok yang bisa menganggu kesehatannya, seperti pneumonia, alergi, hingga asma. Asap rokok itukan bisa bertahan di udara hingga beberapa di dalam ruangan atau rumah, biarpun dengan jendela terbuka. Coba bayangin saja, kalau di dalam ruangan itu ada bayi atau balita, berapa jam mereka menghirup zat beracun. 
Bahaya rokok inilah yang harus dihindari dari jangkauan anak-anak. Menghirupnya saja berbahaya, apalagi sampai merokok, kebayang deh tuh itu paru-paru terus menerus menghisap bahan kimia berbahaya. Saya termasuk yang punya alergi asap rokok, kalau sampai mengirup asap rokok, bisa membuat sesak napas. Untungnya suami bukanlah perokok, biarpun dia selalu dianggap cemen oleh saudara laki-lakinya. Suami sadar betul, bahwa kesehatan itu paling utama, dia tidak ingin anak-anak dan istrinya sampai sakit karena rokok. Suami ingin anak-anak tumbuh dengan sehat, karena anak punya hak bebas dari asap rokok.

Bebaskan anak dari media promosi rokok

Sumber foto: www.pixabay.com
Anak-anak di masa tumbuh kembangnya punya hak untuk sehat dan bebas dari asap rokok. Sedih saja kalau ada yang merokok, padahal disitu ada anak-anak. Sedihnya lagi, di luar sana banyak anak-anak Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas sudah merokok. Paling kesel kalau pas lagi naik angkutan umum pada seenaknya merokok dan pake seragam lagi. Padahal buat beli saja masih minta orangtuanya. Anak-anak kenal rokok, bisa beberapa hal, mulai dari promosi di berbagai media, lingkungan rumah ada perokok, baik itu ayah, ibu, paman hingga saudaranya, hingga pergaulannya di luar rumah. Rokok itu berbahaya banget, teman saya ada yang meninggal karena sakit paru-paru, efek dari rokok. Kalau sudah sakit, siapa yang rugi, sudah pasti diri sendiri, dan yang untung banyak tentu saja perusahaan yang memproduksi rokok.
Selain itu, yang membuat miris saat ini tentunya adalah anak-anak yang tanpa disadari menjadi media promosi rokok. Padahal rokok ini harus dijauhi dari yang namanya anak-anak, malah dijadikan ajang promosi.
Anak jadi media promosi rokok, kenapa seperti itu?
Sudah tahukan ibu-ibu dan bapak-bapak sebuah audisi bulutangkis dari perusahaan rokok? Pasti tahulah ya. Ternyata bentuk audisi bakat yang acaranya disponsori penuh oleh perusahaan rokok ini, termasuk ke dalam eksploitasi anak. Ini saya ketahui setelah mendengarkan talkshow #PutusinAja dalam program radio Ruang Publik KBR. Disini saya bisa menyimak perbincangan narasumber seperti Reza Indragiri selaku Pakar Psikolog Forensik Yayasan Lentera Anak, dan Nina Mutmainah Armando selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, yang dipandu oleh Don Predi. Adapun tema yang diambil dari talkshow ini adalah “Desakan Stop Anak jadi Media Promosi Rokok”.

Saatnya untuk bebaskan anak dari media promosi rokok. Seperti beberapa waktu lalu Yayasan Lentera Anak (YLA) merilis temuan terhadap kegiatan Audisi Beasiswa Djarum Bulutangkis. Jadi tahu banyak dari talkshow ini, bahwa audisi ini sudah berlangsung selama 10 tahun dan mampu merekrut dua puluh tiga ribuan (23.000). Amazing bangetkan mendengarnya? Bayangin sudah 10 tahun, dan anak-anak tersebut dikumpulkan, lalu di audisi, nantinya yang menang akan mendapatkan hadiah berupa beasiswa bulutangkis. Tapi dari total yang direkrut tersebut, hanya ada 200an anak saja yang bisa mendapatkan beasiswa. Kok sedikit?
Dari paparan Reza Indragiri diketahui bahwa kegiatan ini berawal di tahun 2006, dimana perusahaan rokok tersebut mengelar audisi beasiswa bagi anak-anak usia 15 tahun untuk mendapatkan pelatihan bulutangkis, yang audinya digelar di kota Kudus. Sejak tahun 2015 audisi tersebut sudah melebar ke berbagai kota. Dan per 2017 perusahaan rokok tersebut mulai menjaring peserta audisi dari usia yang jauh lebih muda, yakni 6 tahun. Duuh. Di lapangan sendiri, siapapun bisa datang ke lokasi, dengan didukung sepenuhnya oleh perusahaan rokok ternama.
Menurut Reza, sah sudah pernyataan organisasi kesehatan dunia (WHO) beberapa tahun lalu kalau acara audisi bulutangkis ini dianggap sebagai salah satu bentuk Corporate Social Resposbility, yang merupaka bentuk program pertanggungjawaban sosial perusahaan. Dan ini disebut WHO sebagai ironi yang sempurna. Mendengarkan talkshow ini jadi berpikir, bagaimana bisa sebuah produk yang dianggap paling mematikan didunia, justru mencoba menebus itu semua dengan melakukan program pertanggung jawaban sosial. Hemmm.
Kajian ini diluncurkan dengan judul “Smash! Eksploitasi Anak di Balik Audisi Badminton Djarum. Jadi menurut Reza dalam pemaparannya, Yayasan Lentera Anak menemukan beberapa hal, seperti:

  • Para peserta anak-anak yang mengikuti audisi diwajibkan menggunakan kaos khusus, yang atribut, logo, dan warnanya identik dengan perusahaan rokok tersebut. Bahkan tulisan dari rokok tersebut ditulis besar-besar di bagian dada. Ini anak-anak sudah tampak seperti iklan berjalan.
  • Di wilayah atau kota tempat audisi ini diselenggarakan, berbagai macam spanduk, baliho, hingga banner menggunakan warna yang senada dari perusahaan rokok tersebut.
  • Jumlah peserta yang ikut audisi tidak sebanding dengan jumlah penerima beasiswa, yakni hanya 0,01% saja.
Tentu saja melihat penemuan ini menjadi begitu dramatis sebagai ajang pencarian bakat badminton nasional. Maka dari itulah Yayasan Lentera Anak menyebut ini adalah eksploitasi anak. Terus bentuk eksploitasinya seperti apa?
  • Ini termasuk eksplotasi ekonomi. Karena dalam Undang-undang perlindungan anak ada 2 jenis eksploitasi, yakni ekonomi dan seksual. Dan untuk audisi ini termasuk eksploitasi ekonomi. Artinya ini akan mendatangkan keuntungan bagi perusahaan, dan keuntungan menjadi berlipat ganda bagi penyelenggara, bukan untuk anak-anak yang direkrut nantinya.
  • Ada relasi tidak seimbang antara pihak yang dianggap pihak mengeksploitasi dan pihak yang tereksploitasi. 

Bentuk eksploitasi pasti tidak disadari, mengingat anak-anak yang mengikuti audisi tersebut, terlihat gembira dan semangat. Tapi disana anak-anak dan orangtua tidak sadar bahwa pada saat itu sedang berlangsung sebuah modus yang disebut sebagai grooming behavior. Jadi cara-cara dalam menjahati anak, bukan saja dengan cara sadis, tapi justru yang paling mudah digunakan tanpa meninggalkan bukti dengan modus grooming behavior, seperti anak diberikan kegembiraan, diiming-iming penghargaan dan hadiah. Modus ini ternyata yang klasik untuk memangsa anak-anak. Makin ngerikan ya.
Menurut bu Nina, bahwa merek rokok dan anak-anak itu dua hal yang berseberangan. Dan melalui audisi yang melibatkan anak-anak menjadi menyatu. Yang ditonjolkan dari kaos yang digunakan merek sebuah rokok lebih besar ketimbang audisinya sendiri. Ini bisa dikatanya anak diterjunkan langsung ke tempat dimana dia bisa melihat rokok dengan dekat, tapi disaat yang sama anak tersebut menjadi alat peraga. Iya ya dengan begini anak-anak jadi tahu tentang merek rokok, dan menjadi tahu rokok. PAdahal sudah jelas di kemasan rokok suka ada tulisan “rokok membunuhmu”.
Industri rokok patut diduga melakukan eksploitasi di tingkat hilir, karena menggunakan anak-anak menjadi media promosi berjalan. Sedih memang mendengarnya, apalagi anak-anak yang ikut audisi ini menggunakan kaos itu selama 3 hari. Saat di negera lain, iklan rokok di larang, sedangkan Indonesia menjadi surga bagi industri rokok. Indonesia termasuk yang masih ramah terhadap iklan rokok dan sponsorship. Harusnyakan iklan rokok ini dilarang. Duuuh. Sempat kepikiran juga, kenapa perusahaan rokok menjadi sponsor ajang pencarian bakar badminton, padahal sudah jelas, rokok ini membahayakan kesehatan. Terus bagaimana supaya cara seperti ini dihentikan?

STOP! promosi rokok

Sumber foto: Pixabay.com
Peluang anak-anak disalahgunakan iklan berjalan oleh perusahaan rokok. Dalam suatu riset, anak-anak yang terpapar iklan rokok, bisa mengalami potensi menjadi perokok. Jadi ngeri bangetkan, ketika kita ingin anak berprestasi dan punya bakat untuk ikut audisi, tapi bisa jadi terpapar iklan rokok. Gamau dong sebagai generasi bangsa, anak-anak malah jadi semakin dekat dengan rokok. Karena rokok ini sangat berbahaya dan banyak dampak buruknya untuk kesehatan. 
Menurut Reza, dalam Riset Kesehatan Nasional tahun 2018 di Indonesia ada sembilan juta perokok belia. Tentu saja ini tidak sebanding dong, dengan pemenang audisi yang hanya dua ratusan anak saja. Dalam program Ruang Publik KBR disebutkan juga bahwa pendapatan dari cukai rokok itu sangat besar, tentu ini tidak bisa dipadang sebelah mata. 
Tahun 2013 di Indonesia tercatat ada 7,2% anak yang merokok, menyadari angkanya tidak kecil, pemerintah mencanangkan tahun 2019 harus turun 5,2%. Alih-alih turun, tahun 2018 jumlah perokok belia naik jadi 9,1%. Pemerintah membatalkan rencana untuk menaikan cukai. Kalau cukai rokok tidak dinaikkan, dengan begitu anak-anak semakin banyak terfasilitasi untuk membeli rokok ketimbang beli telur. Andaikan rokok naik, semoga bisa turun angka anak-anak belia yang terpapar rokok.
Bu Nina juga membahas nih, ternyata ada beberapa tempat yang mengalami penurunan promosi rokok sekitar sekolah. Padahal wilayah sekolah yang paling disenangi industri rokok, karena sasarannya anak-anak. Kalau begini anak bisa terpapar iklan rokok. Berbagai LSM, seperti Yayasan Lentera Anak, hingga Yayasan Pengembangan Media Anak melakukan penurunan media promosi sekitar sekolah, supaya anak tidak terpapar iklan dan promosi rokok. Ini bisa dilakukan kita semua, supaya rokok jauh dari anak sebagai generasi bangsa.
Terus apa yang harus dilakukan Komisi Perlindungan Anak Indonesia?
KPAI sendiri sudah menyatakan perusahaan rokok sudah mengeksploitasi anak dari hulu hingga hilir. Seperti yang diungkapkan Siti Hikmahwati dari KPAI bahwa ada beberapa langkah yang dilakukan, seperti, salah satunya dengan memberikan pencerahan kepada para pelaku tersebut bahwa ini adalah bentuk eksploitasi anak, karena apabila belum menyadari maka akan disampaikan bukti-bukti yang tertera dalam undang-undang. Apabila masih melakukan, maka akan melakukan tindakan ke jalur hukum.
Kita tidak bisa diam saja. Sebagai orangtua tentu ingin anak menjadi berprestasi di bidang olahraga, tapi kalau audisininya dilakukan perusahaan rokok tentu tidak nyambung. Disatu sisi suruh sehat, tapi di sisi lain malah ngerokok, kan aneh, setuju ga?
Apa yang perlu dilakukan? 
  • Penting sekali berbagai pihak di masyarakat saling bekerjasama, menghindarkan iklan dan promosi rokok dari jangkauan anak-anak.
  • Audisi bakat seperti beasiswa bulutangkis ini dilakukan perusahaan selain rokok.
  • Harga rokok dinaikkan.
  • Kalau perlu denda kepada perokok yang dengan sengaja merokok di fasilitas publik. Seperti taman dan jalan yang sudah pasti ada anak-anak bermain.
  • Seperti kata pa reza, tutup mata, tutup telinga, tutup telinga jangan lagi bersentuhan dengan mahluk yang satu itu, yakni rokok.

Saatnya putusin aja karena rokok membawa efek negatif dan tidak akan membawa manfaat. Merokok hanya akan membunuh perlahan, dan membuat kesehatan dan keuangan semakin terganggu. Saatnya bebaskan generasi bangsa dari media promosi rokok, termasuk dari ajang olahraga. Karena anak-anak adalah generasi bangsa yang harus terus dilindungi supaya tidak terpapar perilaku negatif, seperti merokok yang bisa mengakibatkan kematian. (*)

Komentar

Berita Lengkap Lainya